Dia istriku. Dia istriku yang melayaniku. Dia istriku yang menjadikanku seorang ayah. Dia istriku yang menyempurnakan separuh nafasku. Dia istriku yang mengusap punggungku kala amarah bersemayam dalam dada. Dia istriku yang doa dan air matanya tulus untukku.
Bagiku sudah biasa aku mendengar kemarahan ayah seperti saat ini. Ibuku hanya bisa menangis melihat aku yang sedang dibentak-bentak ayah.
“Yah gondrong.” Batinku saat aku memakai seragam sekolah sambil melihat kaca. Aku usap rambutku, memang benar gondrong rupanya. Alamat ibu akan ‘menyanyi’ kalau tahu begini.
“Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tak diganggu.dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Pertama aku melihatmu seketika itu aku jatuh hati padamu. Sikap lemah lembutmu, senyum tulusmu, tutur bahasamu, cantik sekali di mataku. Dengan balutan jilbab berwarna ungu kau terlihat begitu anggun. Siapa dirimu aku bertanya-tanya dalam hati.