Web Hosting

Senin, 04 Mei 2015

Ayah

Ayah
Ayahku sedang terengah-engah sembari memegang dadanya. Aku sendiri terdiam di sofa tak bergeming. Pertengkaran kecil yang menjadi agenda kami seperti biasanya. Kami tak pernah bisa sepaham, entahlah mengapa.


Ini hidupku, dan aku sudah dewasa untuk memilih. Apakah itu sebuah kesalahan? Aku bukan lagi anak kecil yang selalu didikte dalam hal apapun. Aku hanya ingin mendapat pengakuan darinya, dari orang tuaku satu-satunya, cuma itu.



“Mau kemana kamu?”


“Keluar.”


“Keluar? Apa kamu tidak lihat mendung itu hah!” bentaknya.


“Selalu, selalu dan selalu. Kenapa Ayah selalu ikut campur urusanku sih? Aku bukan anak kecil lagi Yah, aku bisa menjaga diri aku sendiri. Setelah Bunda meninggal Ayah jadi menyebalkan!” ujarku. Aku berlari keluar meninggalkannya. Rasanya semakin kesal jika aku terus-terusan di rumah.


Rumah yang dulunya terasa hangat sekarang berubah seperti neraka. Semenjak bunda meninggal setahun yang lalu, ayah jadi otoriter. Seakan-akan dia yang paling benar. Dia tak seperti bunda yang mengerti kemauanku dengan benar. Angin bertiup kencang menyibakkan rambutku. Sepertinya akan hujan lebat. Aku segera mencari tempat berteduh. Hari ini mungkin aku akan tidur di masjid desa sebelah.


Hujan lebat dan angin kencang terpampang di depanku. Baju yang tak seberapa tebal tak mampu menahan rasa dingin yang di hadirkannya. Aku lihat sekelilingku, seperti sebuah warung yang tak terpakai. Tidak ada tempat yang cukup bersih untukku duduk memeluk lutut mengurangi hawa dingin.


Aku memandang jauh ke dalam hujan yang jatuh membasahi setiap jengkal tanah. Aku teringat bagaimana saat bunda masih di samping kami. Semua cerita yang kami lalui bersama antara aku, ayah dan bunda dulu.


***


“Darimana kamu, kok basah begitu?”


“Main bola Yah. Tadi kalah lari sama hujan jadinya basah deh. Hujannya keroyokan sih.”


“Kalau ngeles pinter ya kamu. Kalau Bunda tahu bagaimana coba?”


“Loh Bunda di rumah? Enggak jadi arisan di rumah Bu Retno?”


“Enggak, hujan katanya. Tuh di dalam.”


Aku tercengang mendengar penjelasan ayah. Sekarang apa yang harus aku lakukan. Kalau bunda tahu aku basah kuyup seperti ini bisa diberi khotbah 3 hari 3 malam. Aku cuma garuk-garuk kepala berharap menemukan sebuah ide.


Tapi rasanya percuma saja, kamarku berada di ruang tengah. Aku lewat manapun pasti ketahuan. Jendela pasti juga dikunci karena hujan. Tinggal kata pasrah yang ada di benakku.


“Ham, sini bantuin Ayah,” panggil ayahku.


“Ngapain?”


“Sudah sini. Bantuin ayah mindahin pot bunga ini.”


Aku pun menurut saja dengan perintah ayahku. 5 pot berukuran sedang sudah berhasil aku pindah ke tempat yang tidak terkena air hujan. Begitu sadar, keadaanku jauh lebih parah. Tidak hanya basah, bahkan bajuku kini kotor terkena bagian bawah pot yang pastinya penuh lumpur.


“Kalau sudah ayo masuk.”


“Hah?”


“Sudah ayo. Masuk angin kamu nanti kalau tidak ganti baju. Cepat sini ikut Ayah masuk.”


Yah sepertinya memang tinggal pasrah yang bisa aku lakukan. Daripada kedinginan seperti ini memang lebih baik pakai jaket walau nantinya akan mendengar bunda marah-marah. Aku jalan perlahan di belakang ayah penuh kepasrahan.


“Ya ampun Bilal, kok basah begini sih, kotor lagi,” kata bunda.


“Oh ini tadi Bilal bantuin ayah mindahin pot bunga, jadinya kotor deh. Ayah kan tidak kuat makanya Ayah nyuruh Bilal yang mindahin.”


Aku terkejut mendengar alasan ayah. Tidak terlihat raut kemarahan di wajah bunda. Mungkin alasan ayah memang masuk akal. Aku hanya disuruh segera mandi dan ganti baju oleh bunda. Aku lirik ayah yang tersenyum melihatku sambil mengacungkan jempolnya. “Terima kasih Yah,” batinku.


“Yah makasih ya,” kataku setelah aku selesai mandi.


Ayahku hanya tersenyum mendengarnya. Ia memintaku untuk duduk di sampingnya, ia ingin bercerita katanya.


“Dulu Ayah sama seperti kamu. Ayah dulu suka hujan-hujanan dan Kakek yang selalu membela Ayah jika Nenek marah-marah. Melihat kamu yang basah kuyup karena hujan tadi Ayah jadi ingat masa kecil Ayah dulu. Kata kakekmu dulu, hujan itu walaupun selebat apapun ia akan memberikan kesegaran dengan airnya. Bahkan setelah itu ia memberikan bonus berupa pelangi. Hidup juga seperti itu, walau cobaan sehebat apapun yang menimpa kita, kita masih memiliki ‘air’ yang menyegarkan kita yaitu keluarga. Bahkan setelah masalah itu berlalu kita akan memiliki semangat yang baru layaknya pelangi. Karena sudah Ayah ceritakan ke kamu, Harapan Ayah semoga kamu ingat cerita ini selalu,” katanya sambil tersenyum menepuk pundakku.


Tak terasa air mataku menetes mengingat kisah itu. Keluarga, walau tanpa bunda kami tetaplah keluarga. Dari kejauhan nampak ayah membawa payung menuju tempatku berteduh. Aku berlari menghampirinya dan segera memeluknya. Aku tersadar betapa mengertinya ia akan diriku. Ia adalah air yang menyegarkan di saat hujan yang lebat. Di antara hujan aku berjanji akan mencintainya dan hujan ini adalah saksinya.

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar