Ayahku sedang terengah-engah
sembari memegang dadanya. Aku sendiri terdiam di sofa tak bergeming.
Pertengkaran kecil yang menjadi agenda kami seperti biasanya. Kami tak pernah
bisa sepaham, entahlah mengapa.
Ini hidupku, dan aku sudah dewasa
untuk memilih. Apakah itu sebuah kesalahan? Aku bukan lagi anak kecil yang
selalu didikte dalam hal apapun. Aku hanya ingin mendapat pengakuan darinya,
dari orang tuaku satu-satunya, cuma itu.
“Mau kemana kamu?”
“Keluar.”
“Keluar? Apa kamu tidak lihat
mendung itu hah!” bentaknya.
“Selalu, selalu dan selalu. Kenapa
Ayah selalu ikut campur urusanku sih? Aku bukan anak kecil lagi Yah, aku bisa
menjaga diri aku sendiri. Setelah Bunda meninggal Ayah jadi menyebalkan!”
ujarku. Aku berlari keluar meninggalkannya. Rasanya semakin kesal jika aku
terus-terusan di rumah.
Rumah yang dulunya terasa hangat
sekarang berubah seperti neraka. Semenjak bunda meninggal setahun yang lalu,
ayah jadi otoriter. Seakan-akan dia yang paling benar. Dia tak seperti bunda
yang mengerti kemauanku dengan benar. Angin bertiup kencang menyibakkan
rambutku. Sepertinya akan hujan lebat. Aku segera mencari tempat berteduh. Hari
ini mungkin aku akan tidur di masjid desa sebelah.
Hujan lebat dan angin kencang
terpampang di depanku. Baju yang tak seberapa tebal tak mampu menahan rasa
dingin yang di hadirkannya. Aku lihat sekelilingku, seperti sebuah warung yang
tak terpakai. Tidak ada tempat yang cukup bersih untukku duduk memeluk lutut
mengurangi hawa dingin.
Aku memandang jauh ke dalam hujan
yang jatuh membasahi setiap jengkal tanah. Aku teringat bagaimana saat bunda
masih di samping kami. Semua cerita yang kami lalui bersama antara aku, ayah
dan bunda dulu.
***
“Darimana kamu, kok basah begitu?”
“Main bola Yah. Tadi kalah lari
sama hujan jadinya basah deh. Hujannya keroyokan sih.”
“Kalau ngeles pinter ya kamu.
Kalau Bunda tahu bagaimana coba?”
“Loh Bunda di rumah? Enggak jadi
arisan di rumah Bu Retno?”
“Enggak, hujan katanya. Tuh di
dalam.”
Aku tercengang mendengar
penjelasan ayah. Sekarang apa yang harus aku lakukan. Kalau bunda tahu aku
basah kuyup seperti ini bisa diberi khotbah 3 hari 3 malam. Aku cuma
garuk-garuk kepala berharap menemukan sebuah ide.
Tapi rasanya percuma saja, kamarku
berada di ruang tengah. Aku lewat manapun pasti ketahuan. Jendela pasti juga
dikunci karena hujan. Tinggal kata pasrah yang ada di benakku.
“Ham, sini bantuin Ayah,” panggil
ayahku.
“Ngapain?”
“Sudah sini. Bantuin ayah mindahin
pot bunga ini.”
Aku pun menurut saja dengan
perintah ayahku. 5 pot berukuran sedang sudah berhasil aku pindah ke tempat
yang tidak terkena air hujan. Begitu sadar, keadaanku jauh lebih parah. Tidak
hanya basah, bahkan bajuku kini kotor terkena bagian bawah pot yang pastinya
penuh lumpur.
“Kalau sudah ayo masuk.”
“Hah?”
“Sudah ayo. Masuk angin kamu nanti
kalau tidak ganti baju. Cepat sini ikut Ayah masuk.”
Yah sepertinya memang tinggal
pasrah yang bisa aku lakukan. Daripada kedinginan seperti ini memang lebih baik
pakai jaket walau nantinya akan mendengar bunda marah-marah. Aku jalan perlahan
di belakang ayah penuh kepasrahan.
“Ya ampun Bilal, kok basah begini
sih, kotor lagi,” kata bunda.
“Oh ini tadi Bilal bantuin ayah
mindahin pot bunga, jadinya kotor deh. Ayah kan tidak kuat makanya Ayah nyuruh
Bilal yang mindahin.”
Aku terkejut mendengar alasan ayah.
Tidak terlihat raut kemarahan di wajah bunda. Mungkin alasan ayah memang masuk
akal. Aku hanya disuruh segera mandi dan ganti baju oleh bunda. Aku lirik ayah
yang tersenyum melihatku sambil mengacungkan jempolnya. “Terima kasih Yah,”
batinku.
“Yah makasih ya,” kataku setelah
aku selesai mandi.
Ayahku hanya tersenyum
mendengarnya. Ia memintaku untuk duduk di sampingnya, ia ingin bercerita
katanya.
“Dulu Ayah sama seperti kamu. Ayah
dulu suka hujan-hujanan dan Kakek yang selalu membela Ayah jika Nenek marah-marah.
Melihat kamu yang basah kuyup karena hujan tadi Ayah jadi ingat masa kecil Ayah
dulu. Kata kakekmu dulu, hujan itu walaupun selebat apapun ia akan memberikan
kesegaran dengan airnya. Bahkan setelah itu ia memberikan bonus berupa pelangi.
Hidup juga seperti itu, walau cobaan sehebat apapun yang menimpa kita, kita
masih memiliki ‘air’ yang menyegarkan kita yaitu keluarga. Bahkan setelah
masalah itu berlalu kita akan memiliki semangat yang baru layaknya pelangi.
Karena sudah Ayah ceritakan ke kamu, Harapan Ayah semoga kamu ingat cerita ini
selalu,” katanya sambil tersenyum menepuk pundakku.
Tak terasa air mataku menetes
mengingat kisah itu. Keluarga, walau tanpa bunda kami tetaplah keluarga. Dari
kejauhan nampak ayah membawa payung menuju tempatku berteduh. Aku berlari
menghampirinya dan segera memeluknya. Aku tersadar betapa mengertinya ia akan
diriku. Ia adalah air yang menyegarkan di saat hujan yang lebat. Di antara
hujan aku berjanji akan mencintainya dan hujan ini adalah saksinya.




