“Bu,
Bilal sekarang sarjana Bu, Bilal sarjana.”
“Iya
Nak. Kamu sarjana yang hebat.Kamu sarjana kebanggaan Ibu.”
“Andai Ayah bisa melihat Bilal yang sekarang,
pasti Ayah akan bangga,” kata Bilal setengah menunduk. Ibunya bisa mengerti
bagaimana perasaan putra tunggalnya saat itu.Dia sendiri juga berharap bisa
melihat anaknya yang sekarang dengan didampingi oleh suaminya.Tapi, semua sudah
berjalan sesuai kehendak Tuhan. Manusia bisa apa? Cepat-cepat ia berusaha untuk
tidak ikut hanyut terbawa suasana. “Ini adalah hari yang bahagia tidak boleh
ada air mata,” batinnya.
“Bilal,
lihat wajah Ibu Nak.Bilal jangan bersedih.Ibu yakin Ayah pasti bangga jika
melihat Bilal saat ini. Kalau Bilal sedih seperti ini nanti Ibu malah jadi
ikutan sedih. Ini kan hari bahagia untuk keluarga kita. Jangan bersedih lagi
ya, Ibu punya ide bagaimana kalau setelah ini kita mampir ke makam Ayah, kita
doakan Ayah, bagaimana?”
Bilal
hanya mengangguk mendengar perkataan ibunya.Ia sendiri juga tak ingin bersedih
di hadapan ibunya, tetapi bagaimanapun juga terbesit kerinduan yang
begitumendalam pada sosok seorang ayah. Ayahnya meninggal sejak ia berusia 10
tahun. Yang ia tahu saat itu ayahnya terbaring tidur di depannya tanpa bisa
bangun lagi. Dia belum mengerti arti dari kematian atau tentang perpisahan.
Ibunya
banting tulang demi menghidupinya setelah itu semua berlalu. Dia tidak berpikir
untuk menikah lagi, dia sangat mencintai suaminya. Dia tidak berpikir akan
mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari almarhum suaminya. Walau ia sendiri
juga merasakan hal sama dengan anaknya tapi ia berpikir untuk terus melangkah.
Ia tidak ingin mempertanyakan apa yang sudah menjadi takdirkeluarganya.
Mereka
berjalan meninggalkan kampus menuju makam di mana kepala keluarga mereka
terbaring.Sepanjang perjalanan mereka saling diam, saling asyik dengan pikiran
mereka sendiri-sendiri.Sesampainya di makam ayahnya, Bilal tidak kuasa menahan
air matanya.Melihat itu semua ibunya hanya bisa berkata dalam hati, “Sayang,
anak kita sudah menjadi anak yang hebat.”Bilal terkenang apa yang telah terjadi
di kehidupannya yang lalu. Kisah-kisah yag sudah ia lewati berdua bersama ibunya.
***
“Baiklah
sekarang saatnya saya akan menyampaikan peringkat atau juara secara umum, dari
peringkat 1 sampai peringkat 3.Kita mulai dari peringkat 1 adalah ananda Ahmad
Maulana, kemudia peringkat 2 adalah ananda Khairunissa Rahmawati. Dan peringkat
yang terakhir secara umum adalah ananda Bilal Nur Rahman, silahkan untuk yang
disebutkan tadi maju ke depan untuk mendapatkan hadiah perpisahan dari
sekolah.”
“Sudah
semua.Oke mungkin ada yang mau di sampaikan silahkan,” kata panitia setelah
mereka bertiga menerima hadiah perpisahan mereka.
“Perkenalkan
nama saya Ahmad Maulana, saya sangat bangga bisa sekolah di sini.Setelah ini
saya akan melanjutkan kuliah di sebuah universitas negeri dan saya akan
mengambil jurusan hukum, mohon doanya terima kasih.”
“Perkenalkan
nama saya Khairunissa Rahmawati, saya tidak pernah menyangka akan seperti
ini.Yang saya lakukan hanyalah belajar, belajar dan terus belajar. Perjuangan
saya tidak akan berhenti di sini saya akan mengambil jurusan tarbiyah agar saya
bisa mengabdi kepada negara untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa. Terima
kasih”
“Perkenalkan
nama saya Bilal Nur Rahman. Alhamdulillah saya masih bisa sekolah hingga saat
ini di saat orang lain tidak mampu untuk sekolah. Saya masih mampu membuat Ibu
saya bangga dengan melihat saya berdiri di sini.Saya, saya tidak melanjutkan
kemanapun. Setelah ini saya akan bekerja membantu Ibu saya. Terima kasih.”
Mendengar
itu semua ibunya tak kuasa untuk menahan air matanya.Ia berlari menghampiri
putranya,sebuah pelukan yang bisa ia berikan saat ini diiringi tepuk tangan
orang-orang yang hadir di aula tersebut. Tidak ada orang yang tidak meneteskan
air mata melihatnya. Perpisahan itu menjadi ajang tangisan, bukan karena
takutnya akan kata berpisah. Tetapi, karena drama yang sedang berlangsung di
depan mata mereka saat ini.
“Bilal
janji, Bilal akan berkeja keras membantu Ibu. Bilal janji,” kata Bilal sambil
mengusap puggung ibunya. Ibunya hanya mengangguk saja, apa yang bisa dilakukan
oleh seorang janda pikirnya. Untuk menyekolahkan anaknya hingga saat ini saja
sudah membuat tumpukan hutangnya bertambah, dia tidak pernah berpikir akan bisa
membiayai kuliah anaknya.
Sebulan
telah berlalu sejak hari perpisahan itu.“Bu Bilal dapat pekerjaan sebagai OB,”
kata Bilal setengah berlari menghampiri ibunya.
“OB
itu apa Nak?” tanya ibunya.
“Tukang
sapu Bu, gajinya sedikit tapi kalau Bilal rajin menabung pasti kita bisa beli
sesuatu,” katanya sambil tersenyum.
“Alhamdulillah.Yang
penting halal Nak, rejeki dari Allah.”
“Iya
Bu.”
Selain
itu rupanya Bilal mendapat pekerjan part time sebagai pengantar koran
dan pelayan restoran. Setiap hari setelah sholat subuh ia mengantar koran
terlebih dahulu. Setelah itu barulah ia bekerja sebagai OB. Malamnya ia bekerja
sebagai pelayan di sebuah rumah makan. Ia akan melakukan apapun demi bisa
membahagiakan ibunya. tak jarang ibunya menasehati agar ia tidak terlalu keras
pada dirinya sendiri, tapi Bilal tetaplah Bilal. Seseorang dengan kemauan yang
begitu keras.
Sudah
setahun ia menjadi pengantar koran, OB, dan pelayan. Tabungannya sudah cukup
banyak. Sekarang ia bisa membelikan ibunya baju dari hasil keringatnya sendiri
walau hanya baju yang murah. Sedikit demi sedikit ia bisa memperbaiki keadaan
rumahnya agar lebih nyaman untuk ditinggali mereka berdua. Ia bisa membeli
sepeda motor bekas jika ibunya ingin pergi ke suatu tempat.
Baginya
walau yang itu belikan bukan barang mewah tetapi itu adalah pencapaian yang
hebat dalam hidupnya. Dia bisa berguna bagi ibunya yang sudah susah payah
menghidupinya selama ini.Semakin hari semakin bertambah semangat
bekerjanya.Bahkan tak jarang perusahaan tempatnya bekerja memberikan bonus atas
hasil kerjanya.
Di
tempat kerjanya Bilal terkenal jujur dan sangat santun.Dia sangat cerdas, tidak
ada yang meragukan kecerdasan Bilal.Karena kecerdasannya inilah akhirnya Bilal
naik jabatan menjadi asisten gudang. Dengan semakin sibuknya ia, ia memilih
untuk berhenti menjadi pengantar Koran. Kini pekerjaannya hanya tinggal asisten
gudang serta pelayan restoran.
“Bu,
Bilal mau buka toko buku. Menurut Ibu bagaimana?” tanya Bilal saat sarapan. Ia
berharap dengan membuka toko buku ia bisa menyalurkan hobi membacanya.
“Kamu
sudah punya modalnya memang?” ibunya balik bertanya.
“Sudah
Bu, tapi juga tidak seberapa.”
“Ibu
akan selalu mendukungmu Nak.Jika memang sudah menjadi keputusanmu Ibu akan siap
membantu apapun jika diperlukan,” kata ibunya.Ia mengenal betul anaknya, jika
anaknnya sudah memiliki kemauan ia tidak akan pernah menyerah pada kemauannya
itu.
Kini
sebuah toko buku sudah berdiri didepan rumahnya. Tak terlalu besar tapi Bilal
berharap tokonya akan berguna bagi orang-orang sekitarnya.
“Nak,
kamu jangan pikirkan Ibu terus.Ibu sudah bahagia melihat kamu bisa dapat uang
sendiri.Setidaknya kamu juga berpikir tentang kebahagiaanmu juga Nak.”
“Maksud
Ibu?”
“Kamu
lebih baik kuliah, dengan gaji kamu yang sekarang pasti cukup.Ibu sudah
tidakmau apa-apa lagi dari kamu. Ini demi masa depan kamu nantinya Nak.”
“Tapi
Bu…”
“Sudah
Ibu tidak apa-apa Nak, kamu kuliah saja.Ibu sudah tidak mengharapkan apa-apa
lagi dari kamu.”
Bilal
diam mendengar saran ibunya.Dia memang masih memiliki keinginan untuk kuliah
tapi melihat keadaan ibunya dia tidak tega jika waktunya sepenuhnya digunakan
untuk kuliah. Dia mash ingin bekerja dan membelikan ibunya barang-barang yang
kiranya dia sukai.Teman-teman kerjanya juga memberikan saran serupa kepadanya.“Sayang
jika otak cerdasmu hanya sebatas SMA,” kata mereka.
Kuliah,
apa menjadi suatu keharusan pikirnya. Dulu memang ia memimpikan untuk bisa
kuliah dan menyandang gelar sarjana. Tetapi semua itu tidak bisa ia wjudkan
saat itu. Sekarang setelah ia diberikan kesempatan untuk kuliah kenapa justru
keraguan yang ia dapatkan? Bukankah akan lebih baik jika uang ini aku gunakan
untuk lebih membahagiakan ibu pikirnya.
Tetapi
ibunya sendiri sudah tidak ingin apa-apa dan memintanya untuk kuliah.Apa ibu
tidak berbohong? Sedangkan menurutnya apa yang ia berikan masih jauh dari yang
ibunya berikan selama 13 tahun merawatnya. Lebih baik aku tidak kuliah,
lagipula aku sudah bekerja dan membahagiakan ibu. Kuliah atau tidak tujuannya
sama saja, membahagiakan ibu, begitu pikirnya.
“Bilal
sudah memutuskan mau kuliah di mana?” tanya ibunya.
“Bilal
tidak akan kuliah Bu,” jawabnya.
“Loh
kenapa?” tanya ibunya kaget.
“Kuliah
atau tidak tujuan Bilal kan sama, mau membahagiakan Ibu. Sekarang Bilal sudah
bisa membahagiakan Ibu kenapa juga Bilal harus kuliah jika akhirnya sama,”
katanya.
“Bilal
anak Ibu, suatu saat kamu juga akan menjadi orang tua Nak.Kebahagiaan orang tua
itu terletak pada kebahagiaan anaknya.Sekarang mungkin kamu beranggapan kuliah
itu tidak perlu tapi kamu akan tahu perlunya setelah Ibu tiada kelak Nak.”
Perasaan
ragu kembali merambati hatinya.Apakah memang ada perlunya kuliah itu,
sampai-sampai ibunya bersikeras menyuruhnya untuk kuliah. “Bu, apa Ibu sekarang
tidak bahagia?”
“Ibu
bahagia Nak untuk saat ini, tetapi apa kita tahu apa yang akan terjadi kelak?
Tidak ada satupun manusia yang tahu tentang masa depan selain Allah Nak. Kita
hanya bisa mempersiapkan segala keperluan untuk masa depan. Sekarang kamu sudah
merasa cukup tapi seperti apa masa depanmu kelak tidak ada yang tahu.”
“Ibu
selalu berdoa semoga kamu selalu di dalam rahmat Allah tetapi bukan berarti
kamu tidak akan mendapat cobaan dari Allah.Ibu akan bersedih saat melihatmu
bersedih karena kurangnya persiapanmu untuk menghadapi ujian dariAllah tersebut
Nak,” sambung ibunya.
“Bilal
kan sudah besar Bu. Sudah bisa memilh mana yang terbaik untuk Bilaldan menurut
Bilal ini yang terbaik untuk Bilal dan Ibu,” katanya meyakinkan ibunya.
Ibunya
menarik nafas panjang, dia hafal betul seperti apa anaknya. Sangat mirip dengan
suaminya sangat keras kepala. Dia tersenyum melihat anaknya mewarisi sifat
ayahnya yangsangat ia benci dulu tetapi sekarang sifat keras kepala
itumembuatnya merindukan suaminya.
“Kamu
memang mirip Ayahmu Nak, keras kepala.Ibu jadi kangen dengan Ayahmu. Jika Ayahmu
masih ada pasti ia juga akan menyuruhmu kuliah. Dan sekali Ia bilang kuliah
kamu akan terus disuruhnya kuliah, karena Ayahmu lebih keras kepala daripada
keras kepalamusaat ini.”
“Ibu
dan Ayahmu dulu kenal saat kami bekerja di tempat yangsama. Bedanya ayahmu di
samping ia bekerja ia juga sekolah. Dia mengatakan pada Ibu bahwa pendidikan
adalah hal terpenting.Bahkan ayat pertama AlQur’an juga mengatakaniqro,
bacalah.Pepatah mengatakan tuntutlah
ilmu walaupun sampai ke negeri Cina.Ayahmu sangat tergila-gila
dengan ilmu pengetahuan tapi kamu sebagai anaknya kenapa justru menolak ilmu
pengetahuan Anakku?”
Bilal
terdiam mendengar penuturan ibunya. Ayahnya seperti ia saat mudanya. Ia tetap
memilih sekolah walau dia sudah bekerja. Kanapa dirinya menolak sekolah, apa ia
pantas menyebut dirinya anak dari ayahnya jika ia tidak mewarisi sifat dari
ayahnya.
Tanpa
berpikir panjang Bilal memutuskan untuk akhirnya kuliah.Suatu hal yang menjadi
cita-citaya dulu.Dia berhenti bekerja sebagai asisten gudang.Kegiatannya hanya
menunggu toko bukunya dan sesekali menjadi pelayan restoran. Tidak ada yang ia
sesalkan dalam hidupnya. Yang ia percayai Allah memberikan seorang sahabat
ketika dirinya di berikan ujian yaitu kesabaran. Dan sekarang temannya itu telah
membawa ia pada mimpi-mimpinya yang dulu hanya bisa ia bayangkan.
“Bilal,
ayo pulang,” kata ibunya membuyarkan lamunan Bilal.
“Iya
Bu,” angguk Bilal.
“Ayah,
terima kasih sudah mewariskan sifatmu padaku.Terima kasih sudah membuat Bilal
semangat mencari ilmu.Terima kasih, Bilal janji akan menjaga Ibu dengan baik,”
batinnya meninggalkan makam ayahnya.




