Web Hosting

Sabtu, 09 Mei 2015

Karena Aku Anak Ayah

Karena Aku Anak Ayah

“Bu, Bilal sekarang sarjana Bu, Bilal sarjana.”
“Iya Nak. Kamu sarjana yang hebat.Kamu sarjana kebanggaan Ibu.”
“Andai Ayah bisa melihat Bilal yang sekarang, pasti Ayah akan bangga,” kata Bilal setengah menunduk. Ibunya bisa mengerti bagaimana perasaan putra tunggalnya saat itu.Dia sendiri juga berharap bisa melihat anaknya yang sekarang dengan didampingi oleh suaminya.Tapi, semua sudah berjalan sesuai kehendak Tuhan. Manusia bisa apa? Cepat-cepat ia berusaha untuk tidak ikut hanyut terbawa suasana. “Ini adalah hari yang bahagia tidak boleh ada air mata,” batinnya.

“Bilal, lihat wajah Ibu Nak.Bilal jangan bersedih.Ibu yakin Ayah pasti bangga jika melihat Bilal saat ini. Kalau Bilal sedih seperti ini nanti Ibu malah jadi ikutan sedih. Ini kan hari bahagia untuk keluarga kita. Jangan bersedih lagi ya, Ibu punya ide bagaimana kalau setelah ini kita mampir ke makam Ayah, kita doakan Ayah, bagaimana?”
Bilal hanya mengangguk mendengar perkataan ibunya.Ia sendiri juga tak ingin bersedih di hadapan ibunya, tetapi bagaimanapun juga terbesit kerinduan yang begitumendalam pada sosok seorang ayah. Ayahnya meninggal sejak ia berusia 10 tahun. Yang ia tahu saat itu ayahnya terbaring tidur di depannya tanpa bisa bangun lagi. Dia belum mengerti arti dari kematian atau tentang perpisahan.
Ibunya banting tulang demi menghidupinya setelah itu semua berlalu. Dia tidak berpikir untuk menikah lagi, dia sangat mencintai suaminya. Dia tidak berpikir akan mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari almarhum suaminya. Walau ia sendiri juga merasakan hal sama dengan anaknya tapi ia berpikir untuk terus melangkah. Ia tidak ingin mempertanyakan apa yang sudah menjadi takdirkeluarganya.
Mereka berjalan meninggalkan kampus menuju makam di mana kepala keluarga mereka terbaring.Sepanjang perjalanan mereka saling diam, saling asyik dengan pikiran mereka sendiri-sendiri.Sesampainya di makam ayahnya, Bilal tidak kuasa menahan air matanya.Melihat itu semua ibunya hanya bisa berkata dalam hati, “Sayang, anak kita sudah menjadi anak yang hebat.”Bilal terkenang apa yang telah terjadi di kehidupannya yang lalu. Kisah-kisah yag sudah ia lewati berdua bersama ibunya.
***
“Baiklah sekarang saatnya saya akan menyampaikan peringkat atau juara secara umum, dari peringkat 1 sampai peringkat 3.Kita mulai dari peringkat 1 adalah ananda Ahmad Maulana, kemudia peringkat 2 adalah ananda Khairunissa Rahmawati. Dan peringkat yang terakhir secara umum adalah ananda Bilal Nur Rahman, silahkan untuk yang disebutkan tadi maju ke depan untuk mendapatkan hadiah perpisahan dari sekolah.”
“Sudah semua.Oke mungkin ada yang mau di sampaikan silahkan,” kata panitia setelah mereka bertiga menerima hadiah perpisahan mereka.
“Perkenalkan nama saya Ahmad Maulana, saya sangat bangga bisa sekolah di sini.Setelah ini saya akan melanjutkan kuliah di sebuah universitas negeri dan saya akan mengambil jurusan hukum, mohon doanya terima kasih.”
“Perkenalkan nama saya Khairunissa Rahmawati, saya tidak pernah menyangka akan seperti ini.Yang saya lakukan hanyalah belajar, belajar dan terus belajar. Perjuangan saya tidak akan berhenti di sini saya akan mengambil jurusan tarbiyah agar saya bisa mengabdi kepada negara untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa. Terima kasih”
“Perkenalkan nama saya Bilal Nur Rahman. Alhamdulillah saya masih bisa sekolah hingga saat ini di saat orang lain tidak mampu untuk sekolah. Saya masih mampu membuat Ibu saya bangga dengan melihat saya berdiri di sini.Saya, saya tidak melanjutkan kemanapun. Setelah ini saya akan bekerja membantu Ibu saya. Terima kasih.”
Mendengar itu semua ibunya tak kuasa untuk menahan air matanya.Ia berlari menghampiri putranya,sebuah pelukan yang bisa ia berikan saat ini diiringi tepuk tangan orang-orang yang hadir di aula tersebut. Tidak ada orang yang tidak meneteskan air mata melihatnya. Perpisahan itu menjadi ajang tangisan, bukan karena takutnya akan kata berpisah. Tetapi, karena drama yang sedang berlangsung di depan mata mereka saat ini.
“Bilal janji, Bilal akan berkeja keras membantu Ibu. Bilal janji,” kata Bilal sambil mengusap puggung ibunya. Ibunya hanya mengangguk saja, apa yang bisa dilakukan oleh seorang janda pikirnya. Untuk menyekolahkan anaknya hingga saat ini saja sudah membuat tumpukan hutangnya bertambah, dia tidak pernah berpikir akan bisa membiayai kuliah anaknya.
Sebulan telah berlalu sejak hari perpisahan itu.“Bu Bilal dapat pekerjaan sebagai OB,” kata Bilal setengah berlari menghampiri ibunya.
“OB itu apa Nak?” tanya ibunya.
“Tukang sapu Bu, gajinya sedikit tapi kalau Bilal rajin menabung pasti kita bisa beli sesuatu,” katanya sambil tersenyum.
“Alhamdulillah.Yang penting halal Nak, rejeki dari Allah.”
“Iya Bu.”
Selain itu rupanya Bilal mendapat pekerjan part time sebagai pengantar koran dan pelayan restoran. Setiap hari setelah sholat subuh ia mengantar koran terlebih dahulu. Setelah itu barulah ia bekerja sebagai OB. Malamnya ia bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah makan. Ia akan melakukan apapun demi bisa membahagiakan ibunya. tak jarang ibunya menasehati agar ia tidak terlalu keras pada dirinya sendiri, tapi Bilal tetaplah Bilal. Seseorang dengan kemauan yang begitu keras.
Sudah setahun ia menjadi pengantar koran, OB, dan pelayan. Tabungannya sudah cukup banyak. Sekarang ia bisa membelikan ibunya baju dari hasil keringatnya sendiri walau hanya baju yang murah. Sedikit demi sedikit ia bisa memperbaiki keadaan rumahnya agar lebih nyaman untuk ditinggali mereka berdua. Ia bisa membeli sepeda motor bekas jika ibunya ingin pergi ke suatu tempat.
Baginya walau yang itu belikan bukan barang mewah tetapi itu adalah pencapaian yang hebat dalam hidupnya. Dia bisa berguna bagi ibunya yang sudah susah payah menghidupinya selama ini.Semakin hari semakin bertambah semangat bekerjanya.Bahkan tak jarang perusahaan tempatnya bekerja memberikan bonus atas hasil kerjanya.
Di tempat kerjanya Bilal terkenal jujur dan sangat santun.Dia sangat cerdas, tidak ada yang meragukan kecerdasan Bilal.Karena kecerdasannya inilah akhirnya Bilal naik jabatan menjadi asisten gudang. Dengan semakin sibuknya ia, ia memilih untuk berhenti menjadi pengantar Koran. Kini pekerjaannya hanya tinggal asisten gudang serta pelayan restoran.
“Bu, Bilal mau buka toko buku. Menurut Ibu bagaimana?” tanya Bilal saat sarapan. Ia berharap dengan membuka toko buku ia bisa menyalurkan hobi membacanya.
“Kamu sudah punya modalnya memang?” ibunya balik bertanya.
“Sudah Bu, tapi juga tidak seberapa.”
“Ibu akan selalu mendukungmu Nak.Jika memang sudah menjadi keputusanmu Ibu akan siap membantu apapun jika diperlukan,” kata ibunya.Ia mengenal betul anaknya, jika anaknnya sudah memiliki kemauan ia tidak akan pernah menyerah pada kemauannya itu.
Kini sebuah toko buku sudah berdiri didepan rumahnya. Tak terlalu besar tapi Bilal berharap tokonya akan berguna bagi orang-orang sekitarnya.
“Nak, kamu jangan pikirkan Ibu terus.Ibu sudah bahagia melihat kamu bisa dapat uang sendiri.Setidaknya kamu juga berpikir tentang kebahagiaanmu juga Nak.”
“Maksud Ibu?”
“Kamu lebih baik kuliah, dengan gaji kamu yang sekarang pasti cukup.Ibu sudah tidakmau apa-apa lagi dari kamu. Ini demi masa depan kamu nantinya Nak.”
“Tapi Bu…”
“Sudah Ibu tidak apa-apa Nak, kamu kuliah saja.Ibu sudah tidak mengharapkan apa-apa lagi dari kamu.”
Bilal diam mendengar saran ibunya.Dia memang masih memiliki keinginan untuk kuliah tapi melihat keadaan ibunya dia tidak tega jika waktunya sepenuhnya digunakan untuk kuliah. Dia mash ingin bekerja dan membelikan ibunya barang-barang yang kiranya dia sukai.Teman-teman kerjanya juga memberikan saran serupa kepadanya.“Sayang jika otak cerdasmu hanya sebatas SMA,” kata mereka.
Kuliah, apa menjadi suatu keharusan pikirnya. Dulu memang ia memimpikan untuk bisa kuliah dan menyandang gelar sarjana. Tetapi semua itu tidak bisa ia wjudkan saat itu. Sekarang setelah ia diberikan kesempatan untuk kuliah kenapa justru keraguan yang ia dapatkan? Bukankah akan lebih baik jika uang ini aku gunakan untuk lebih membahagiakan ibu pikirnya.
Tetapi ibunya sendiri sudah tidak ingin apa-apa dan memintanya untuk kuliah.Apa ibu tidak berbohong? Sedangkan menurutnya apa yang ia berikan masih jauh dari yang ibunya berikan selama 13 tahun merawatnya. Lebih baik aku tidak kuliah, lagipula aku sudah bekerja dan membahagiakan ibu. Kuliah atau tidak tujuannya sama saja, membahagiakan ibu, begitu pikirnya.
“Bilal sudah memutuskan mau kuliah di mana?” tanya ibunya.
“Bilal tidak akan kuliah Bu,” jawabnya.
“Loh kenapa?” tanya ibunya kaget.
“Kuliah atau tidak tujuan Bilal kan sama, mau membahagiakan Ibu. Sekarang Bilal sudah bisa membahagiakan Ibu kenapa juga Bilal harus kuliah jika akhirnya sama,” katanya.
“Bilal anak Ibu, suatu saat kamu juga akan menjadi orang tua Nak.Kebahagiaan orang tua itu terletak pada kebahagiaan anaknya.Sekarang mungkin kamu beranggapan kuliah itu tidak perlu tapi kamu akan tahu perlunya setelah Ibu tiada kelak Nak.”
Perasaan ragu kembali merambati hatinya.Apakah memang ada perlunya kuliah itu, sampai-sampai ibunya bersikeras menyuruhnya untuk kuliah. “Bu, apa Ibu sekarang tidak bahagia?”
“Ibu bahagia Nak untuk saat ini, tetapi apa kita tahu apa yang akan terjadi kelak? Tidak ada satupun manusia yang tahu tentang masa depan selain Allah Nak. Kita hanya bisa mempersiapkan segala keperluan untuk masa depan. Sekarang kamu sudah merasa cukup tapi seperti apa masa depanmu kelak tidak ada yang tahu.”
“Ibu selalu berdoa semoga kamu selalu di dalam rahmat Allah tetapi bukan berarti kamu tidak akan mendapat cobaan dari Allah.Ibu akan bersedih saat melihatmu bersedih karena kurangnya persiapanmu untuk menghadapi ujian dariAllah tersebut Nak,” sambung ibunya.
“Bilal kan sudah besar Bu. Sudah bisa memilh mana yang terbaik untuk Bilaldan menurut Bilal ini yang terbaik untuk Bilal dan Ibu,” katanya meyakinkan ibunya.
Ibunya menarik nafas panjang, dia hafal betul seperti apa anaknya. Sangat mirip dengan suaminya sangat keras kepala. Dia tersenyum melihat anaknya mewarisi sifat ayahnya yangsangat ia benci dulu tetapi sekarang sifat keras kepala itumembuatnya merindukan suaminya.
“Kamu memang mirip Ayahmu Nak, keras kepala.Ibu jadi kangen dengan Ayahmu. Jika Ayahmu masih ada pasti ia juga akan menyuruhmu kuliah. Dan sekali Ia bilang kuliah kamu akan terus disuruhnya kuliah, karena Ayahmu lebih keras kepala daripada keras kepalamusaat ini.”
“Ibu dan Ayahmu dulu kenal saat kami bekerja di tempat yangsama. Bedanya ayahmu di samping ia bekerja ia juga sekolah. Dia mengatakan pada Ibu bahwa pendidikan adalah hal terpenting.Bahkan ayat pertama AlQur’an juga mengatakaniqro, bacalah.Pepatah mengatakan tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina.Ayahmu sangat tergila-gila dengan ilmu pengetahuan tapi kamu sebagai anaknya kenapa justru menolak ilmu pengetahuan Anakku?”
Bilal terdiam mendengar penuturan ibunya. Ayahnya seperti ia saat mudanya. Ia tetap memilih sekolah walau dia sudah bekerja. Kanapa dirinya menolak sekolah, apa ia pantas menyebut dirinya anak dari ayahnya jika ia tidak mewarisi sifat dari ayahnya.
Tanpa berpikir panjang Bilal memutuskan untuk akhirnya kuliah.Suatu hal yang menjadi cita-citaya dulu.Dia berhenti bekerja sebagai asisten gudang.Kegiatannya hanya menunggu toko bukunya dan sesekali menjadi pelayan restoran. Tidak ada yang ia sesalkan dalam hidupnya. Yang ia percayai Allah memberikan seorang sahabat ketika dirinya di berikan ujian yaitu kesabaran. Dan sekarang temannya itu telah membawa ia pada mimpi-mimpinya yang dulu hanya bisa ia bayangkan.
“Bilal, ayo pulang,” kata ibunya membuyarkan lamunan Bilal.
“Iya Bu,” angguk Bilal.
“Ayah, terima kasih sudah mewariskan sifatmu padaku.Terima kasih sudah membuat Bilal semangat mencari ilmu.Terima kasih, Bilal janji akan menjaga Ibu dengan baik,” batinnya meninggalkan makam ayahnya.

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar