“Selamat ulang tahun Bilal.”
“Terima kasih Yah, kadonya mana?” tanya
Bilal kepada ayahnya. Ayahnya hanya tersenyum mendengar perkataan
anaknya itu. “Bilal sudah umur berapa sekarang?” tanya ayahnya balik
kepada Bilal sambil duduk di sampingnya. “17 Yah,” kata Bilal penuh
semangat. Ayahnya hanya mengangguk-angguk mendengar jawaban anaknya
itu.
“Kado buat Bilal apa Yah?” desak Bilal tidak sabar lagi. Ini adalah sweet seventeennya. Pasti ada sesuatu yang spesial untuk dia. Sejak kecil Bilal memang sudah dimanja oleh ayahnya, ibunya meninggal saat melahirkan Bilal. Akhirnya Bilal diasuh sendiri oleh ayahnya.
Ayahnya tidak pernah berpikir untuk menikah lagi. Baginya kehadiran Bilal adalah pengganti istrinya di sampingnya. Terkadang ayahnya juga kasihan melihat Bilal bertanya seperti apa ibunya. “Sayang, anak kita sudah dewasa sekarang,” kata hati ayahnya.
“Ayah mau cerita sesuatu, mau dengar tidak?” tanya ayahnya kepada Bilal. “Cerita apa Yah, Bilal mau dengar,” kata Bilal penuh semangat.
“Siapa nama anak Ayah ini?”
“Maksud Ayah?”
“Jawab pertanyaan Ayah, siapa nama anak Ayah ini?”
“Bilal.”
“Kamu tahu kenapa Ayah memberikan nama itu?”
“Tidak.”
“Bilal, dulu pada zaman Rasulullah orang yang menjadi muadzin pertama adalah Bilal bin Rabah. Suaranya sangat merdu, sangat halus. Ayah hanya berharap kepadamu walau kamu ini laki-laki tapi suaramu tidak lebih tinggi dari suara perempuan. Karena daging di antar kedua bibirmu itu adalah salah sumber dari dosa-dosa besar. Sebenarnya itu adalah pesan Ibumu kepada Ayah untuk memberikan nama Bilal.”
Bilal hanya bisa terdiam mendengar cerita ayahnya.
“Sekarang kamu sudah besar, sudah dewasa. Akan ada banyak hal yang akan kamu temui kelak. Dan harapan Ibu serta Ayah hanya agar kamu berkata yang baik, yang benar, yang jujur apapun resikonya. Itulah kenapa kami memberikan kamu nama Bilal. Nah cerita Ayah sudah selesai, kamu ingin hadiah apa?”
“Tidak Yah. Bagi Bilal cerita Ayah adalah kado terspesial bagi Bilal. Bilal janji tidak akan mengecewakan Ayah dan Ibu, janji.”



