Ia terus mengucapkan ingin pergi dan selalu
menyebut-nyebutnya. Hingga unta tertambat di depan pintu rumahnya terus
menguntitnya dengan gigih dan terus terjaga. Dengan penuh persiapan tak
terganggu angan-angan belaka.
Hingga kini aku masih terus teringat. Waktu kecil dahulu aku
pernah dimasukkan ke rumah sakit selama seminggu, karena kram kedinginan yang
menimpaku. Setelah keluar dari rumah sakit, aku mendengar dokter memberitahukan
kepada orang tuaku bahwa kesehatanku sekarang sudah baik. Tetapi penyakit ini
akan berpengaruh juga di masa depan mendatang.
Tahun demi tahun pun berlangsung. Aku pun beranjak dewasa,
dan kemudian menjadi seorang ayah.
Kadang-kadang aku merasa lelah hanya karena sedikit tenaga
yang ku keluarkan. Aku pergi ke rumah sakit untuk menjalankan pemeriksaan
lengkap. Ternyata terbukti bahwa aku memiliki kelemahan di bagian katup
jantung, sehingga harus menjalani operasi jantung.
Kelemahan itu berasal dari penyakit kram yang menimpaku
beberapa tahun yang lalu, yang kemudian berkembang menjadi rematik jantung.
Aku berusaha membujuk dokter supaya member pengobatan dan
istirahat saja, sehingga tidak perlu operasi. Tetapi dokter itu memberitahuku, “Anda
baru merasa perlu dioperasi setelah beberapa bulan. Anda akan yakin sendiri
nanti.”
Ternyata terbukti setelah beberapa bulan, aku mulai terlihat
lemah dan pucat sekali. Aku memutuskan untuk ridha terhadap takdir Allah. Aku menyerahkan
urusan ini kepada Allah semata.
Setelah menjalani pemeriksaan lengkap dan berbagai urusan
tetek bengeknya, terjadilah kesepakatan waktu untuk datang ke rumah sakit dan
menjalankan opname, yakni satu hari sebelum operasi.
Setelah itu, pada hari pertama para karib kerabatku datang
berkunjung. Aku sungguh senang dan tentram. Aku duduk sebentar kira-kira satu
jam dengan dokter bedah yang akan mengoperasi diriku.
Pada malam sebelum operasi dilakukan, aku tidur dengan
nyenyak. Aku sama sekali tidak memikirkan apa-apa. Bersamaan dengan adzan
subuh, aku terbangun. Aku dengarkan suara adzan itu. Lantunannya masuk ke dalam
lubuk hati, menggetarkan jiwaku. Hatiku berbisik, mengusik ketenanganku, “Aku
tidak tahu apa yang sedang terjadi pada diriku?
Operasi itu berat, mungkin saja ini adalah hari terakhirku
di dunia. Dan mungkin ini adalah adzan terakhir yang engkau dengar.” Berbagai bisikan
datang dari berbagai penjuru.
Di mana engkau selama ini? Sebuah pertanyaan yang
menyebabkan air mata mengalir dari kedua mataku. Hari-hari yang lalu telah
pergi bagai mimpi. Di mana upayaku menghadapi alam akhirat? Lihatlah, kini
kematian telah mendekat.
Ketika aku mengangkat pandanganku, tiba-tiba ku lihat
seorang perawat laki-laki sudah berada di dekat kepalaku. “Ada apa dengan Anda?”
Aku tidak menjawab. Karena memang aku tidak memiliki jawaban. Akan tetapi
perawat itu dapat menangkap kegelisahan dan kegoncanganku. Bisa jadi ia memang
sudah memperkirakan hal itu. Saat itu pula, ia sudah memegang jarum bius. Aku mengulurkan
tanganku. Aku juga tahu bahwa akan menyerahkan jantungku untuk dioperasi.
Dan sebelum itu semua, aku juga sudah menyerahkan urusanku
kepada Allah. Dadaku akan dibelah. Jantungku akan berhenti berdetak selama
operasi berlangsung. Usai dioperasi nanti, akan dikirimkan ke tubuhku aliran
listrik untuk mengaktifkan jantung kembali dan menjadikannya kembali berdenyut.
Bila tidak bereaksi juga, kembali diulangi kejutan listrik tersebut. Bila tidak
juga berhasil, aku akan digotong ke liang kubur.
Pengetahuanku terhadap hal itu secara mendetail membuat
diriku memandang kehidupan ini demikian hina dan murah. Bagaimana selama ini
aku menyia-nyiakan umurku.
Beberapa saat setelah disuntik, aku tak sadarkan diri. Kemudian
aku baru tahu bahwa operasi terhadap jantungku itu berlangsung selama delapan
jam terus-menerus.
Aku bersyukur kepada Allah, ternyata jantungku kembali
bereaksi ketika mendapat kejutan listrik pertama kali.
Sepulang dari rumah sakit, setiap hari aku menghisab
hari-hariku. Aku selalu ingat kejadian itu, yang menyebabkan air mata
berderai sementara aku terbaring di atas kasur kematian. Bagaiamana aku
akan menghadap Allah? Apa bekalku menghadap-Nya?
Setiap kali aku ingat kejadian itu, semakin bertambah pula
ketaatan dan taqarrubku kepada Allah. Setiap kali aku berbuat lalai dan malas,
aku segera ingat kejadian itu. Aku bersyukur kepada Allah bahwa ternyata aku
dapat memasuki kehidupan dari awal lagi.



