Web Hosting

Selasa, 19 Mei 2015

Untuk Mereka Yang Memiliki Hati

Ia terus mengucapkan ingin pergi dan selalu menyebut-nyebutnya. Hingga unta tertambat di depan pintu rumahnya terus menguntitnya dengan gigih dan terus terjaga. Dengan penuh persiapan tak terganggu angan-angan belaka.

Hingga kini aku masih terus teringat. Waktu kecil dahulu aku pernah dimasukkan ke rumah sakit selama seminggu, karena kram kedinginan yang menimpaku. Setelah keluar dari rumah sakit, aku mendengar dokter memberitahukan kepada orang tuaku bahwa kesehatanku sekarang sudah baik. Tetapi penyakit ini akan berpengaruh juga di masa depan mendatang.

Tahun demi tahun pun berlangsung. Aku pun beranjak dewasa, dan kemudian menjadi seorang ayah.

Kadang-kadang aku merasa lelah hanya karena sedikit tenaga yang ku keluarkan. Aku pergi ke rumah sakit untuk menjalankan pemeriksaan lengkap. Ternyata terbukti bahwa aku memiliki kelemahan di bagian katup jantung, sehingga harus menjalani operasi jantung.

Kelemahan itu berasal dari penyakit kram yang menimpaku beberapa tahun yang lalu, yang kemudian berkembang menjadi rematik jantung.

Aku berusaha membujuk dokter supaya member pengobatan dan istirahat saja, sehingga tidak perlu operasi. Tetapi dokter itu memberitahuku, “Anda baru merasa perlu dioperasi setelah beberapa bulan. Anda akan yakin sendiri nanti.”

Ternyata terbukti setelah beberapa bulan, aku mulai terlihat lemah dan pucat sekali. Aku memutuskan untuk ridha terhadap takdir Allah. Aku menyerahkan urusan ini kepada Allah semata.

Setelah menjalani pemeriksaan lengkap dan berbagai urusan tetek bengeknya, terjadilah kesepakatan waktu untuk datang ke rumah sakit dan menjalankan opname, yakni satu hari sebelum operasi.

Setelah itu, pada hari pertama para karib kerabatku datang berkunjung. Aku sungguh senang dan tentram. Aku duduk sebentar kira-kira satu jam dengan dokter bedah yang akan mengoperasi diriku.

Pada malam sebelum operasi dilakukan, aku tidur dengan nyenyak. Aku sama sekali tidak memikirkan apa-apa. Bersamaan dengan adzan subuh, aku terbangun. Aku dengarkan suara adzan itu. Lantunannya masuk ke dalam lubuk hati, menggetarkan jiwaku. Hatiku berbisik, mengusik ketenanganku, “Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi pada diriku?

Operasi itu berat, mungkin saja ini adalah hari terakhirku di dunia. Dan mungkin ini adalah adzan terakhir yang engkau dengar.” Berbagai bisikan datang dari berbagai penjuru.

Di mana engkau selama ini? Sebuah pertanyaan yang menyebabkan air mata mengalir dari kedua mataku. Hari-hari yang lalu telah pergi bagai mimpi. Di mana upayaku menghadapi alam akhirat? Lihatlah, kini kematian telah mendekat.

Ketika aku mengangkat pandanganku, tiba-tiba ku lihat seorang perawat laki-laki sudah berada di dekat kepalaku. “Ada apa dengan Anda?” Aku tidak menjawab. Karena memang aku tidak memiliki jawaban. Akan tetapi perawat itu dapat menangkap kegelisahan dan kegoncanganku. Bisa jadi ia memang sudah memperkirakan hal itu. Saat itu pula, ia sudah memegang jarum bius. Aku mengulurkan tanganku. Aku juga tahu bahwa akan menyerahkan jantungku untuk dioperasi.

Dan sebelum itu semua, aku juga sudah menyerahkan urusanku kepada Allah. Dadaku akan dibelah. Jantungku akan berhenti berdetak selama operasi berlangsung. Usai dioperasi nanti, akan dikirimkan ke tubuhku aliran listrik untuk mengaktifkan jantung kembali dan menjadikannya kembali berdenyut. Bila tidak bereaksi juga, kembali diulangi kejutan listrik tersebut. Bila tidak juga berhasil, aku akan digotong ke liang kubur.

Pengetahuanku terhadap hal itu secara mendetail membuat diriku memandang kehidupan ini demikian hina dan murah. Bagaimana selama ini aku menyia-nyiakan umurku.

Beberapa saat setelah disuntik, aku tak sadarkan diri. Kemudian aku baru tahu bahwa operasi terhadap jantungku itu berlangsung selama delapan jam terus-menerus.

Aku bersyukur kepada Allah, ternyata jantungku kembali bereaksi ketika mendapat kejutan listrik pertama kali.

Sepulang dari rumah sakit, setiap hari aku menghisab hari-hariku. Aku selalu ingat kejadian itu, yang menyebabkan air mata berderai  sementara aku  terbaring di atas kasur kematian. Bagaiamana aku akan menghadap Allah? Apa bekalku menghadap-Nya?

Setiap kali aku ingat kejadian itu, semakin bertambah pula ketaatan dan taqarrubku kepada Allah. Setiap kali aku berbuat lalai dan malas, aku segera ingat kejadian itu. Aku bersyukur kepada Allah bahwa ternyata aku dapat memasuki kehidupan dari awal lagi.

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar