Web Hosting

Rabu, 06 Mei 2015

F & K

“Aku suka kamu Nisa.”
Kata-kata itu masih terngiang jelas di telingaku. Kata-kata yang seharusnya membuat setiap wanita tersenyum bahagia, tapi kenapa kata-kata itu tidak membahagiakan bagi telingaku.
“Nisa, aku beri waktu kamu 3 hari untuk menjawab perasaanku.”
3 hari? Bagaimana aku bisa berfikir tentang hal sebesar itu hanya dalam 3 hari? Ini sudah hari ke 2 dan besok aku harus memberikan jawaban, tapi apa?

***
“Hai, mau main bola denganku?”
“Ayo! Namamu siapa?”
“Fais!”
“Namaku...”
***
Hari ini hari ke 3, hari di mana aku harus memberikan jawaban dari perasaanku. Dan sialnya aku masih belum tahu jawaban apa yang harus ku berikan.
“Pagi Nisa!”
“Hei, pagi juga Tia, tugasnya Pak Yudi bisa ngerjain gak? Aku kok ragu ya sama kerjaan aku.”
“Iya nih sama, aku sampe minta tolong Kak Fadil. Eh, diketawain sama dia, nyebelin punya kakak kaya’ dia. Nis gimana, udah hari ke 3 loh. Cie, baru pindah langsung dapet cowok, bikin iri tuh hahaha...”
“Apaan sih, kalo mau ambil aja tu, ikhlas kok.”
“Bener nih, berarti kamu nolak dia?”
“Gak tahu juga Ya’ . Aku bingung.”
Tia hanya diam mendengar jawabanku, mungkin dia tahu apa yang sedang aku rasakan, pusing.
***
“Gimana Nis? Udah bisa aku terima jawabannya?”
“Cie Taqin gak sabaran banget hahaha...”
“Apaan sih Ya’...”
“Sepulang sekolah aja deh ya Qin, gimana?”
“Oke gak apa-apa kok Nis.”
Taqin pun berlalu pergi. Dia anak yang cerdas, bisa dibilang idola di sekolah ini. Dan gara-gara dia, aku jadi ikut populer. Bagaimana tidak? Seorang murid pindahan disukai oleh cowok yang menjadi idola sekolah, yang setiap cewek pasti gak nolak buat jadi pacarnya. Tapi aku justru sebaliknya, aku justru bingung, ada sesuatu yang mengganjal di antara kami berdua. Entah itu apa aku tak tahu.
***
“Lagi apa Qin?”
“Nis maaf ya, kita batalin aja. Aku mau cari barang ku yang hilang,” kata Taqin tiba-tiba. “Loh, yang hilang apa Qin? Aku bantu nyariin ya, hilang di mana emang?” “Gantungan kunci Nis, kayaknya jatuh di sekitar sini pas aku lagi nungguin kamu tadi. Maaf Nis jadi ngrepotin kamu,” kata Taqin sambil terus mencari.
Aku terheran, gantungan kunci? Apa segitu pentingnya?
“Ah, ketemu Nis!”
Aku terperangah melihat gantungan kunci milik taqin yang hilang. Sebuah gantungan yang bertuliskan “FK”. Aku terdiam, dalam sesaat. ingatanku terlempar ke belakang.
“Kikin, kikin...!” kataku sambil mengeluarkan gantungan kunci motorku.
“FK, Fa...Fais, dari mana kamu dapat gantungan kunci itu Nis?”
“Dari temen masa kecilku, Kikin.”
“Aku dapet ini dari temenku juga, Fais. Tapi, Fais suka main bola, dia pintar manjat pohon, dia...dia...!”
“Saat pertama melihatmu aku merasa pernah melihatmu tapi entah di mana. Memang waktu kecil aku suka pakai pakaian cowok tapi aku tidak pernah bilang aku cowok kan? Sudah 10 tahun ya, Kikin. Maaf saat itu aku pergi sebelum aku bilang kalau aku ini cewek.”
“Tapi mana ada cewek kayak gitu Nis, dan kenapa namamu berubah?”
“Iya sih Qin, aku memang tomboy dulu. Aku juga sering diejek anak-anak yang lain karena namaku mirip nama cowok. Qin, ehm, kita temenan aja ya seperti waktu kita kecil dulu.”
“Yakin Nis? Tapi kenapa, itu kan dulu?”
“Yakin. Lagipula aku sudah kangen sama temenku, Kikin.”
“Tapi Nis, coba deh dipikir lagi. Masak hanya gara-gara kita dulu pernah jadi temen kamu....”
“Qin, please....”
“Kalau itu sudah keputusanmu ya udah deh Nis, tapi aku harus manggil kamu apa sekarang?”
“Nisa,” kata ku sambil tersenyum meninggalkan Taqin sendirian. Aku gak mau dia melihat air mataku yang tidak bisa aku tahan lagi. Ternyata aku memang tak bisa membohongi perasaanku. Maaf Qin, maaf Kin, aku rasa inilah yang terbaik bagi hubungan kita saat ini.
Aku menoleh ke belakang, melihat Taqin belum beranjak dari tempatnya berdiri. Aku memang menyukaimu Qin, tapi aku lebih merindukan persahabatan kita 10tahun yang lalu. Persahabatan antara Fais dan Kikin, bukan kisah cinta Faissatunisa dan Muttaqin.

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar