“Aku
suka kamu Nisa.”
Kata-kata
itu masih terngiang jelas di telingaku. Kata-kata yang seharusnya membuat
setiap wanita tersenyum bahagia, tapi kenapa kata-kata itu tidak membahagiakan
bagi telingaku.
“Nisa,
aku beri waktu kamu 3 hari untuk menjawab perasaanku.”
3
hari? Bagaimana aku bisa berfikir tentang hal sebesar itu hanya dalam 3 hari?
Ini sudah hari ke 2 dan besok aku harus memberikan jawaban, tapi apa?
***
“Hai,
mau main bola denganku?”
“Ayo!
Namamu siapa?”
“Fais!”
“Namaku...”
***
Hari
ini hari ke 3, hari di mana aku harus memberikan jawaban dari perasaanku. Dan
sialnya aku masih belum tahu jawaban apa yang harus ku berikan.
“Pagi
Nisa!”
“Hei,
pagi juga Tia, tugasnya Pak Yudi bisa ngerjain gak? Aku kok ragu ya sama
kerjaan aku.”
“Iya
nih sama, aku sampe minta tolong Kak Fadil. Eh, diketawain sama dia, nyebelin
punya kakak kaya’ dia. Nis gimana, udah hari ke 3 loh. Cie, baru pindah
langsung dapet cowok, bikin iri tuh hahaha...”
“Apaan
sih, kalo mau ambil aja tu, ikhlas kok.”
“Bener
nih, berarti kamu nolak dia?”
“Gak
tahu juga Ya’ . Aku bingung.”
Tia
hanya diam mendengar jawabanku, mungkin dia tahu apa yang sedang aku rasakan,
pusing.
***
“Gimana
Nis? Udah bisa aku terima jawabannya?”
“Cie
Taqin gak sabaran banget hahaha...”
“Apaan
sih Ya’...”
“Sepulang
sekolah aja deh ya Qin, gimana?”
“Oke
gak apa-apa kok Nis.”
Taqin
pun berlalu pergi. Dia anak yang cerdas, bisa dibilang idola di sekolah ini.
Dan gara-gara dia, aku jadi ikut populer. Bagaimana tidak? Seorang murid
pindahan disukai oleh cowok yang menjadi idola sekolah, yang setiap cewek pasti
gak nolak buat jadi pacarnya. Tapi aku justru sebaliknya, aku justru bingung,
ada sesuatu yang mengganjal di antara kami berdua. Entah itu apa aku tak tahu.
***
“Lagi
apa Qin?”
“Nis
maaf ya, kita batalin aja. Aku mau cari barang ku yang hilang,” kata Taqin
tiba-tiba. “Loh, yang hilang apa Qin? Aku bantu nyariin ya, hilang di mana
emang?” “Gantungan kunci Nis, kayaknya jatuh di sekitar sini pas aku lagi
nungguin kamu tadi. Maaf Nis jadi ngrepotin kamu,” kata Taqin sambil terus
mencari.
Aku
terheran, gantungan kunci? Apa segitu pentingnya?
“Ah,
ketemu Nis!”
Aku
terperangah melihat gantungan kunci milik taqin yang hilang. Sebuah gantungan
yang bertuliskan “FK”. Aku terdiam, dalam sesaat. ingatanku terlempar ke
belakang.
“Kikin,
kikin...!” kataku sambil mengeluarkan gantungan kunci motorku.
“FK,
Fa...Fais, dari mana kamu dapat gantungan kunci itu Nis?”
“Dari
temen masa kecilku, Kikin.”
“Aku
dapet ini dari temenku juga, Fais. Tapi, Fais suka main bola, dia pintar manjat
pohon, dia...dia...!”
“Saat
pertama melihatmu aku merasa pernah melihatmu tapi entah di mana. Memang waktu
kecil aku suka pakai pakaian cowok tapi aku tidak pernah bilang aku cowok kan?
Sudah 10 tahun ya, Kikin. Maaf saat itu aku pergi sebelum aku bilang kalau aku
ini cewek.”
“Tapi
mana ada cewek kayak gitu Nis, dan kenapa namamu berubah?”
“Iya
sih Qin, aku memang tomboy dulu. Aku juga sering diejek anak-anak yang lain
karena namaku mirip nama cowok. Qin, ehm, kita temenan aja ya seperti waktu
kita kecil dulu.”
“Yakin
Nis? Tapi kenapa, itu kan dulu?”
“Yakin.
Lagipula aku sudah kangen sama temenku, Kikin.”
“Tapi
Nis, coba deh dipikir lagi. Masak hanya gara-gara kita dulu pernah jadi temen
kamu....”
“Qin,
please....”
“Kalau
itu sudah keputusanmu ya udah deh Nis, tapi aku harus manggil kamu apa
sekarang?”
“Nisa,”
kata ku sambil tersenyum meninggalkan Taqin sendirian. Aku gak mau dia melihat
air mataku yang tidak bisa aku tahan lagi. Ternyata aku memang tak bisa
membohongi perasaanku. Maaf Qin, maaf Kin, aku rasa inilah yang terbaik bagi
hubungan kita saat ini.
Aku
menoleh ke belakang, melihat Taqin belum beranjak dari tempatnya berdiri. Aku
memang menyukaimu Qin, tapi aku lebih merindukan persahabatan kita 10tahun yang
lalu. Persahabatan antara Fais dan Kikin, bukan kisah cinta Faissatunisa dan
Muttaqin.



