“Saya ingin mencari teman, terima kasih.”
Semua mata menatap heran memandangku. Entahlah mengapa, apa mungkin itu begitu lucu terdengar? Hari pertama sekolahku dan aku sudah membuat diriku terlihat aneh. Aku adalah seorang murid pindahan dengan berbagai kisah kelam di belakangku.
2 bulan berlalu, dan aku belum dapat teman 1 pun. Entah mengapa kisahku terulang kembali di sekolah baruku. Aku pikir, dengan pindah sekolah aku bisa membuat kisah yang baru tetapi ternyata apa yang aku tinggalkan justru tetap menghantuiku hingga sekarang. Aku di bully, tidak heran rasanya dengan fisikku yang jauh berbeda dari orang pada umumnya. Kulitku yang begitu legam seperti anak dari Afrika tersesat di Indonesia. Rasanya seperti ada tembok tinggi yang mengelilingiku hingga mereka tak melihat seperti apa aku di balik tembok itu. Siapa yang akan mau memanjat dinding dingin itu? Melihatnya saja sudah muak.Semua mata menatap heran memandangku. Entahlah mengapa, apa mungkin itu begitu lucu terdengar? Hari pertama sekolahku dan aku sudah membuat diriku terlihat aneh. Aku adalah seorang murid pindahan dengan berbagai kisah kelam di belakangku.
“Sendirian?”
Aku lihat sejenak ia yang tengah berdiri menunggu di sampingku. Seseorang dari kelasku, entah siapa namanya.
“Boleh aku duduk?” ulangnya.
“Boleh.”
“Ternyata duduk di sini enak. Pantesan kamu betah banget ngelamun di sini.”
“Enak?”
“Iya enak Ilham. Di bawah pohon yang rindang dengan angin yang menyejukkan, kicau burung yang menenangkan dan bisa melihat birunya langit bersama seorang teman. Kira-kira apa yang lebih menyenangkan dari itu semua?”
“Ilham?”
“Iya kan Ilham? Apa nama kamu sudah ganti? Kapan gantinya, tadi waktu jam ke-3 masih Ilham.”
Aku memandangnya setengah tak percaya. Aku kira aku telah tenggelam dan tak pernah tersentuh oleh ingatan. Tapi seseorang yang duduk di sampingku ini, ia memanggil namaku dengan sangat jelas. “Namamu?”
“Hah? Ham kita sudah 2 bulan sekelas dan kamu enggak tahu nama teman sekelasmu?”
“Enggak.”
“Kamu memang unik ya. Pantesan enggak ada yang tahan dekat dengan kamu, apa lagi jadi temanmu. Dengar dan ingat nama orang yang akan menjadi teman pertamamu ini, Rahma. Ingat nama orang itu baik-baik.”
“Teman?”
“Iya.Apa aku tidak boleh menjadi teman pertamamu?”
“Teman?”
“Ilham, aku tahu bagaimana rasanya. Pasti berat menanggung semuanya sendirian. Biarkan aku ikut berbagi pundak dan menggenggam tanganmu untuk mengajakmu berlari saat kamu jatuh. Maaf jika aku terlambat datang dalam hidupmu.”
“Tapi mengapa?’
“Kamu tahu, aku pun pernah ada di posisi seperti dirimu saat ini.”
“Saat ini?”
“Iya.Sendiri dalam berbagai keramaian.”
“Tapi aku bisa menikmati tiap detiknya.”
“Mungkin itu yang berbeda dari kita. Aku mati-matian berbaur dalam keramaian hingga aku menemukan aku tak pernah beranjak kemana pun. Yang sebenarnya terjadi hanyalah aku semakin jatuh dengan kata teman yang mereka tempelkan padaku.”
“Jadi aku pelampiasan?”
“Kurang lebih anggap saja simbiosis mutualisme. Kau butuh teman dan aku pun butuh seseorang yang benar-benar bisa aku panggil teman.”
“Mengapa aku?”
“Entahlah. Aku hanya merasa kita benar-benar saling membutuhkan sebagai teman.”
Aku terdiam mendengar pengakuannya. Tidak ada sesuatu yang istimewa dari alasan yang diberikannya padaku. Kami terdiam, aku kembali terbanam dalam komikku. Ia terus saja menutup mata menikmati semilir angin.
“Kau tahu, tanpa saling bicara Naruto sudah tahu bahwa ia dan Sasuke sudah menjadi sahabat,” katanya seraya pergi meninggalkanku.
Rahma!”
“Apa?”
“Teman?”
“Teman.”
Kami tertawa, tanpa peduli lagi siapa yang melihat kami. Segalanya berubah, aku mulai tertawa, bicara, dan bahkan bernyanyi. Hidupku berubah secara total oleh satu orang, Rahma.



