“Bila engkau melihat
seseorang meremehkan Takbiratul Ula dalam shalat, cuci tanganlah dari
perbuatannya.”
Bagi orang asing, negeri kami terlihat penuh kedamaian. Padahal,
aku sedang berlari dan terus berusaha melupakannya.
Di sebuah kebun belakang rumah, seorang wanita tetangga
menanyaiku (tentang agama), “Apakah anda orang Islam?” Aku menjawab, “Kami
semua muslim.” Ku ucapkan itu dengan tergesa-gesa. Karena aku malu, dan
khawatir kalau ia bertanya lebih banyak lagi.
Di sini, kami adalah kumpulan manusia yang terasing. Tidak kenal
tidak pernah tahu seorang pun. Kami pernah mendengar bahwa ada masjid di desa
kami, bahkan juga melihat menaranya bila kami melewatinya. Tetapi tidak pernah
masuk. Sampai-sampai dalam hari raya Ied, kami juga tidak datang ke sana.
Hari-hari kami bercampur aduk dengan hari-hari mereka, yakni
orang-orang kafir. Hari-hari raya kami juga saling bercampur aduk. Dengan kata
lain, kami disebut sebagai muslim, dalam KTP saja. Shalat tidak, beribadah pun
tidak. Tidak ada sesuatu yang menampakkan ke Islam-an di rumah kami, selain
sajadah shalat yang digantung di ruang tamu.
Bersama berlalunya waktu, suamiku ingin mengadakan
perubahan. Bagaimana kami menjalani hidup? Suamiku adalah orang bisnis dan
disiplin. Ia suka sekali bekerja, dan mati-matian dalam belajarnya.
Ia menyusupkan birokrasi formalnya ke dalam rumah tangga dan
di dalam pergaulan kami. Ia ingin, semuanya dilakukan tepat pada waktunya. Sehingga
tidak ada satu menit pun yang terbuang.
Adapun anakku, tidak memiliki jatah apa-apa untuk agamanya. Ia
tidak mengenal Islam sedikitpun. Bahkan ia tidak kenal, sampai dua kalimat
syahadat sekalipun. Siapa Rabbmu? Apa agamamu? Dan siapa nabimu? Tidak pernah
terdengar di rumah kami.
Kami memasukkan ke sekolah bersama anak-anak tetangga kami. Kami
meninggalkan madrasah khusus untuk anak-anak kaum muslimin. Tidak ada lagi
waktu suamiku yang tersisa. Kami bertekad agar anak kami mempelajari bahasa
Inggris, meskipun ia masih kecil. Banyak menonton televisi dan video, bermain
bersama anak-anak tetangga. Demikian yang kami usahakan terhadap dirinya.
Hubungan kami dengan kalangan pelajar (muslim) terputus. Bahkan
hubungan kami dengan negeri kami pun terputus. Terkadang ada telepon yang
mengabarkan kepada kami bahwa si Fulan meninggal dunia, atau kerabat kami
menikah. Di negeri asing ini, aku mengemban tanggung jawab terhadap segala
sesuatu.
Membeli segala kebutuhan, sampai mengoleksi faktur. Kehidupan
di tempat asing ini sedikit terobati dengan adanya anakku, penghibur kami
ketika pulang kerja. Keinginanku untuk mengunjungi keluarga tidak terbatas
lagi.
Akan tetapi, terjadilah percakapan panjang dari orang tua
suamiku. Ia bersikeras agar kami mengunjungi mereka musim panas ini. Semakin panjang
pembicaraan itu, aku semakin gembira. Karena kau tahu, orang tuanya amat
berhasrat untuk berjumpa. Setelah mengemukakan berbagai alasan mentah, akhirnya
suamiku berkata kepada ayah, “Mereka berkunjung tanpa aku, aku sibuk sekali.”
Setelah suamiku meletakkan gagang telepon, aku menunggunya
mengucapkan sesuatu. Namun tampaknya ia tegang sekali. Setelah diam sejenak, ia
berkata, “Ayahku ingin sekali kita berkunjung, tetapi aku tidak bisa pergi. Waktu
kita akan habis untuk pulang pergi saja.” Aku berkata, “Sudah dua tahun kita
tidak pergi ke sana.” “Kalau begitu, kalian yang pergi saja.”
Aku pun memesan tiket dan menyiapkan koperku. Aku akan pergi
meninggalkan kotaku menuju ibu kota. Aku akan singgah di situ selama tiga hari,
aku perlu membeli banyak hadiah. Di perjalanan, anakku terlihat gembira sekali.
Kita akan mengunjungi Fulan dan Fulan. Aku menghitung banyak
sekali nama-nama. Semuanya tidak ada yang ku lupakan.
Ketika kami masuk kota, anakku menanyakan tentang mereka. Aku
bilang, “Bukan sekarang, nanti tiga hari lagi.”
Di kota ini, aku teringat dengan negeriku. Turis di
mana-mana. Warna cokelat terlihat di wajah mereka. Abaya (baju kurung) di jual
di pasar-pasar. Aku sangat gembira karena merasa sudah dekat dengan tanah
airku.
Kami makin mendekati. Satu atau dua hari, kami tinggal di
kota itu. Pada hari yang terakhir kami ada di sini, setelah selesai membeli
segala keperluan kami aku pergi bersama anakku ke sebuah taman. Ada bebek dekat
sekali. Merpati juga seakan menyentuh tangan kami. Ada orang di mana-mana, ada
juga anak-anak kecil yang bermain bergembira-ria.
Anakku mulai melempar sisa-sisa makanan ke arah bebek tadi, hingga
mereka mendekat. Di atas kursi, aku duduk seorang diri. Di sampingku, ada
seorang anak kecil berbicara dengan anakku. Begitu cepatnya mereka kenal. Itu karena
kejernihan hati mereka.
Aku memanggil anakku. Namun yang datang justru ibu dari anak
yang berbicara dengan anakku. Ia memberi salam, dan menyambutku dengan hangat. “Anda
juga turis sepertiku?” tanyanya. “Tidak. Aku akan pulang meninggalkan kota ini.”
jawabku dengan penuh kegembiraan. Seperti juga anak kecil, aku juga ingin ada
orang yang berbicara denganku. Aku memuji tempat itu dan juga anak-anak yang
bergembira ria di situ.
Ia mengajakku untuk minum teh bersamanya. Di tengah tanah
yang hijau, tersedia teh dan kopi. Wanita itu memperkenalkan, “Ini ibuku, ini
saudariku, dan yang itu istri saudaraku.” Masya Allah, satu keluarga lengkap. Saya
merasa senang berbicara dengan mereka.
Tiba-tiba datang seseorang dari jauh. Mereka semua memandang
kepadanya dan mengajaknya bercanda. Ia datang, dengan tongkat di tangannya. “Nah
ini ayah kami!” Ia mengucap salam, namun ia tetap saja berdiri lalu berkata
dengan keras, “Kita tidak mendengar adzan dan iqamah.” Ia mendoakan agar negeri
kaum muslimin sebagai negeri kebaikan dan negeri shalat.
Mereka memanggil si Fulan. Salah seorang dari wanita itu
memanggil dua anak kecil yang ada. Adapun anakku, dengan cepat berlari dan
duduk di sampingku. Sementara anak kecil yang lain, mungkin sudah terbiasa,
langsung membentangkan sajadah. Berdiri di samping dan langsung bertakbir untuk
shalat.
Mata anakku melotot melihat pemandangan. Ketika anak itu
ruku’, lalu sujud dan berdiri lagi, anakku berteriak gembira, “Ia shalat
seperti papa Abdul Aziz!”
Ibu anak itu bertanya kepadaku, “Masya Allah, ayahnya bernama
Abdul Aziz.” Aku menjauhkan mukaku darinya sambil menyembunyikan mataku. Aku menyandarkan
kepala anakku di dadaku. “Betapa besarnya dosa yang engkau lakukan?” gumamku. Aku
menganggukkan kepala, ketika wanita itu mengulang pertanyaannya.
Apa yang sedang menimpaku. Hatiku terasa bergetar dan
diremas-remas. Ia belum pernah melihat ayahnya shalat sekalipun. Abdul Aziz
adalah kakeknya.
Aku merasa wanita itu mengetahui hal itu aku berusaha
menguasai diriku sendiri. Aku bangkit berdiri. Aku membawa kedukaanku selama
dua tahun yang lalu. Aku meninggalkan dia dengan penuh kesedihan. Aku berkata
sendiri, “Anakku belum pernah melihat ayahnya shalat sama sekali.” Seolah wanita
itu turut mengulang kata-kata itu bersamaku. “Yang dia lihat adalah kakeknya. Yang
dia lihat adalah kakeknya.” Ketika masuk kamar hotel, aku berwudhu dan shalat.
Di akhir sore, di rumah orang tuaku.
Kegembiraan terhadap tanah airku tidak meninggalkan makna
apa-apa. Semenjak aku sampai, tidak pernah hilang dari pendengaranku suara
anakku kemarin.
“Saya akan katakan kepadamu kejadian nyata yang ku alami.” “Engkau
adalah saudariku. Tenagkan hatimu.” ujarnya.
Persoalannya tidak sebagaimana yang engkau bayangkan. Tetapi
jauh lebih besar dari yang engkau bayangkan. Aku menangis, dan ku ceritakan kepadanya
apa yang sebenarnya ada pada kami. Air mataku tak terbendung lagi.
Ia berkata dengan sendu, “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raaji’un.”
Ia mendekati anakku dan mengelus kepalanya sambil berkata, “Batasan
antara kita dengan orang-orang kafir adalah shalat. Barangsiapa yang
meninggalkannya maka ia kafir.”
Ini adalah hadits Rasul.
Apakah engkau menerima bila dikatakan kafir? Apakah engkau
menerima dinikahi oleh orang kafir? Apa engkau mau menerima?




